Kisah Pedagang Boboko Keliling Asal Majalengka Naik Pesawat berhaji

By Literasikata.id 24 Apr 2026, 10:31:36 WIB Dunia Islam
Kisah Pedagang Boboko Keliling Asal Majalengka Naik Pesawat berhaji

Literasikata.id Majalengka - Dengan kesabaran, keteguhan hidup sederhana, serta disiplin dalam menabung, Eye Sunarya (54), pedagang boboko keliling asal Blok Minggu dusun Cisampih Desa Tarikolot, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, akhirnya mampu mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji pada musim haji 2026.

Pria yang akrab disapa Wa Mumu itu akan berangkat ke Tanah Suci bersama sang istri, Siti Mariah (48), sebagai bagian dari calon jemaah haji kloter 06 asal Majalengka. Keduanya dijadwalkan berangkat pada Minggu, 26 April 2026 melalui Bandara Internasional Kertajati.

Perjalanan hidup Wa Mumu menjadi perhatian warga karena penuh perjuangan. Sejak lulus Sekolah Dasar pada tahun 1981, ia telah menekuni profesi sebagai pedagang boboko dan berbagai kerajinan berbahan bambu dengan berkeliling sambil dipikul.

Baca Lainnya :

    Di tengah perkembangan zaman, saat banyak pedagang beralih menggunakan kendaraan bermotor, Wa Mumu tetap jualan "ditang'gung" (dipikul) untuk menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung di wilayah Palasah hingga Leuwimunding.

    “Setiap hari saya berkeliling membawa boboko dan anyaman dari bambu. Saya ambil dari saudara yang menjadi pengrajin, lalu saya jual ke kampung-kampung,” ujarnya saat ditemui di rumahnya Kamis (23/4/2026).

    Setelah sekitar lima tahun berjualan di kampung halaman, Wa Mumu kemudian merantau ke wilayah Purwakarta dan melanjutkan usahanya hingga sekarang bersama sang istri.

    Keinginan untuk menunaikan ibadah haji sudah tertanam sejak lama. Pada tahun 2013, di tengah keterbatasan ekonomi, Wa Mumu memberanikan diri mendaftarkan diri bersama istrinya sebagai calon jemaah haji.

    Saat itu, penghasilannya hanya sekitar Rp30.000 per hari. Namun dengan tekad kuat, ia tetap disiplin menyisihkan Rp10.000 setiap hari untuk tabungan haji.

    Ia memegang teguh prinsip hidup sederhana sebagaimana nasihat orang tuanya. Separuh dari penghasilannya ditabung, sementara sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

    Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Setelah bertahun-tahun menabung, Wa Mumu dan istri kini siap berangkat ke Tanah Suci.

    Kisahnya pun mengundang rasa haru dan bangga dari warga sekitar. Salah seorang tetangga, H.Rega (57), mengaku tidak heran dengan keberhasilan Wa Mumu.

    “Pak Mumu itu orangnya sabar dan ulet. Dari dulu memang sudah punya niat kuat untuk berhaji. Kami ikut bangga akhirnya bisa terwujud,” ujarnya.

    Hal senada disampaikan Ibu Wiwi (50) yang menyebut Wa Mumu sebagai sosok pekerja keras dan disiplin.

    “Setiap hari keliling , tetap semangat. Ini jadi contoh bagi kami semua bahwa kerja keras dan konsistensi itu penting,” katanya.

    Sementara itu, kerabatnya, Pepeh (38), menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari kedisiplinan Wa Mumu dalam mengelola keuangan.

    “Penghasilannya memang tidak besar, tapi beliau konsisten menabung. Itu yang membuat kami kagum,” ungkapnya.

    Warga pun mendoakan agar pasangan tersebut diberikan kelancaran selama menjalankan ibadah haji serta kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.

    Kisah Wa Mumu menjadi inspirasi bahwa dengan kesabaran, kerja keras, dan hidup sederhana, impian besar dapat terwujud, termasuk menunaikan rukun Islam kelima.




    Write a Facebook Comment

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    View all comments

    Write a comment