- KIM Jadi Agen Informasi di Daerah untuk Gempur Rokok Ilegal
- Akselerasi Majalengka Langkung Sae, Diskominfo Gelar Bimtek Admin Medsos
- Dandim 0617/Majalengka Pimpin Upacara 17-an, Tekankan Disiplin dan Jaga Citra Positif TNI AD
- Babinsa Bantu Jinakkan Api, Kebakaran Rumah Warga di Palasah Diduga Berawal dari Bakar Sampah
- Resmikan Gedung Baru SMPN 1 Leuwimunding dari Banpres, Bupati Majalengka, Membangun Lebih Mudah, Me
- Bupati Majalengka Minta Menu MBG Diseragamkan dan Tegaskan Pengelola SPPG Jangan Hanya Kejar Untung.
- Terjun ke Lokasi, Danramil Ligung Tinjau Warga Desa Kedungkencana yang Tewas Tersengat Arus Listrik
- Danramil 1711/Sumberjaya Hadiri Pembukaan MPLS SMAN 1 Sumberjaya, Tegaskan Peran TNI dalam Pembinaan
- Komitmen Berantas Narkoba, Satres Narkoba Polres Majalengka Gulung Dua Pengedar Tembakau Sintetis di
- Terjun Langsung dengan Aksi Humanis, Kapolres Majalengka Pimpin Pengamanan Aksi Damai di Depan Pendo
Banjir Berulang dimajalengka, FKPDAS Serukan Pembangunan Berbasis Lingkungan dan Kearifan Lokal

Literasikata.id Majalengka – Forum Komunikasi Pengelola Daerah Aliran Sungai (FKPDAS) Majalengka menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya kejadian banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Majalengka.
Bencana tersebut dinilai sebagai peringatan keras dari alam akibat pembangunan yang terlalu ambisius namun minim perhatian terhadap analisis dampak lingkungan ada sebab dan akibat
Ketua FKPDAS DPD Majalengka, Taufik Geblug Hidayat, menegaskan bahwa banyaknya bencana hidrometeorologi yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari lemahnya pengawasan dan kajian lingkungan dalam proses perizinan pembangunan, baik konstruksi maupun sektor lainnya.
Baca Lainnya :
“Ke depan, setiap izin pembangunan harus melalui analisis yang matang dan komprehensif. Jangan sampai dampaknya baru dirasakan bertahun-tahun kemudian oleh masyarakat,” ujar Taufik, Rabu (23/12/2025).
Ia juga menyoroti maraknya perizinan di sektor pariwisata yang dinilai sering mengabaikan kearifan lokal dan daya dukung lingkungan. Menurutnya, pembangunan pariwisata seharusnya melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk masyarakat lokal dan pemerhati lingkungan, agar pengelolaan alam tetap berkelanjutan.
“Jangan asal memberikan izin tanpa mengenal kondisi lingkungan setempat. Dampak pembangunan itu bukan hanya saat proyek berjalan, tapi risiko jangka panjangnya harus sudah terdeteksi jika analisis lingkungannya dilakukan dengan benar,” tegasnya.
FKPDAS Majalengka juga menyampaikan empati kepada warga yang terdampak banjir dan bencana alam lainnya. Taufik berharap pemerintah dapat bertindak cepat dan sungguh-sungguh dalam penanganan bencana serta pemulihan wilayah terdampak.
“Saya sangat prihatin. Semoga pemerintah bisa segera mengatasi bencana ini dengan serius, dan kepada warga yang tertimpa musibah agar tetap sabar dan tawakal. Mudah-mudahan tidak ada korban jiwa,” ucapnya.
Lebih lanjut, FKPDAS memberikan peringatan keras kepada pemerintah daerah agar tidak mengambil risiko besar atas nama kemajuan pembangunan dengan mengabaikan keselamatan alam dan lingkungan, terlebih jika sampai mengorbankan keselamatan warga.
“Pembangunan harus berjalan seimbang. Alam bukan objek eksploitasi, melainkan mitra hidup yang wajib dijaga,” pungkas Taufik.











